Showing posts with label UN 2011. Show all posts
Showing posts with label UN 2011. Show all posts

Thursday, September 22, 2011

Sistem Baru UN 2011 Tekan Kecurangan

Penerapan mekanisme baru dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2011 dinilai pihak sekolah bisa menekan potensi kecurangan.

"Dalam UN tahun ini ada lima paket soal, berbeda dengan tahun lalu yang hanya dua paket," kata Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Semarang, Sutomo di Semarang, Senin.

Menyikapi mekanisme baru UN itu, ia mengatakan paket soal yang semakin banyak memang mengurangi potensi kecurangan, sebab sangat sulit bagi sekolah sekalipun untuk berlaku curang.

Ia membandingkan dengan mekanisme pelaksanaan UN tahun lalu yang hanya mengujikan dua paket soal, yakni A dan B, sementara tahun ini ada lima paket soal, yakni A hingga E.

"Logikanya seperti ini, kalau ada lima paket soal, apakah mudah bagi sekolah membantu siswa mengerjakan semua soal, apalagi kelima paket pasti memiliki soal yang berbeda," katanya.

Selain mengurangi potensi terjadinya kecurangan, Sutomo menilai mekanisme kelulusan sekolah yang diterapkan tahun ini juga lebih memudahkan siswa dibanding mekanisme tahun lalu.

Ia mengatakan formulasi kelulusan siswa pada tahun ini dilakukan dengan menggabungkan nilai UN dan nilai sekolah, keduanya tak lagi dinilai secara terpisah seperti tahun lalu.

"Ini kemungkinan terburuk, misalnya siswa mendapatkan nilai matematika 3 dan IPA sebesar 1,5, kemungkinan lulus ada jika nilai rata-rata setelah penggabungan memenuhi ketentuan," katanya.

Kendati menilai mekanisme kelulusan siswa tahun ini lebih meringankan, ia mengaku tetap menyiapkan siswa sebaik-baiknya dalam menghadapi UN, seperti halnya tahun lalu.

"Siapa yang tidak ingin siswanya mendapatkan nilai terbaik dalam UN. Kami tetap mempersiapkan siswa, apalagi sekolah kami ini rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)," kata Sutomo.

Senada dengan itu, Kepala SMP Negeri 5 Semarang Suharto juga mengatakan potensi kecurangan dalam pelaksanaan UN justru semakin kecil dengan semakin banyaknya paket soal.

Dalam UN tahun ini ada lima paket soal, kata dia, kalau dalam satu kelas ada 20 siswa, maka setiap empat siswa soalnya berbeda, mereka sulit melakukan kerja sama dalam mengerjakan soal.

"Setiap siswa tentu lebih berkonsentrasi untuk mengerjakan soalnya sendiri, mau mencontek temannya soalnya berbeda, bahkan perbedaannya sampai lima paket soal," kata Suharto.
Read More...

Wednesday, September 21, 2011

UN 2011 Tanpa Tim Pemantau

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/Aliyah tahun 2011 ini tanpa keterlibatan tim pemantau independent (TPI). Peran TPI diganti oleh Tim Pengawas UN, yang tetap melibatkan dosen perguruan tinggi setempat. Di Ciamis Tim Pengawas UN ini melibatkan dosen dari Unigal, IAID, STAI Putera Galuh dan Stikes Muhammadiyah Ciamis.

"Setiap sekolah pelaksana UN ditempatkan seorang pengawas UN. Kecuali untuk sekolah yang menjadi tempat penyimpanan soal (titik bagi) ditempatkan dua pengawas. Tugas kami adalah mengawasi pelaksanaan UN di suatu sekolah. Semetara trugas guru pengawas ruang adalah mengawasi siswa yang mengikuti UN dalam ruang ujian," ujar Azis Basyari S.Sos, salah seorang anggota Tim Pengawas UN tingkat Ciamis usai rapat koordinasi Tim Pengawas UN Ciamis di Kampus Unigal Jumat (15/4) siang.

Rapat koordinasi tim pengawas UN ini dilaksanakan menjelang penyelenggaraan UN Senin (18/4) dan menghadapi kedatangan naskah soal UN ke Ciamis, Sabtu (16/4) pukul 06.00. "Untuk penyimpanan soal UN di Disdik besok (Sabtu, 16/4) juga ditugaskan dua orang dosen dari Tim Pengawas," ujar Azis.
Read More...

Kecurangan UN Ibarat Narkoba

Formula baru dalam Ujian Nasional adalah menggabungkan nilai UN dengan nilai sekolah (NS). Nilai sekolah adalah gabungan nilai ujian sekolah ditambah nilai rapor semester 1-4. Adapun nilai gabungan adalah antara nilai sekolah dan UN ditetapkan minimal 5,5. Nilai kelulusan siswa adalah kombinasi dari nilai gabungan dengan nilai ujian sekolah semua mata pelajaran.

Uniknya, meski sudah ada kelonggaran, tetap saja laporan mengenai kecurangan- kecurangan dalam penyelenggaraan UN tahun ini masih saja terdengar. Kabar mengenai kebocoran jawaban soal masih marak. Aturan-aturan seperti tidak boleh membawa ponsel ke dalam kelas masih saja dilanggar. Bahkan sebuah televisi swasta merekam pembiaran murid-murid melakukan kecurangan di dalam kelas. Para pengawas seperti tak peduli ketika peserta UN "berdiskusi" untuk menyelesaikan sebuah soal.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan manfaat hasil UN adalah menjadi salah satu penentu kelulusan peserta didik, pemetaan mutu program satuan pendidikan secara nasional, pintu masuk untuk pembinaan dan perbaikan mutu pendidikan, baik di tingkat satuan pendidikan maupun nasional, mendorong motivasi belajar siswa, dan mendorong peningkatan mutu proses belajar mengajar.

Adapun tujuannya, menurut Wakil Presiden Boediono, adalah untuk meningkatkan standar pendidikan di Tanah Air. Menurut Wapres, UN juga untuk dapat menghasilkan keadilan dan kejujuran kepada siswa dan siswi yang mengikutinya.

Manfaat dan tujuan UN memang sudah jelas, tapi implementasinya ke bawah justru menjadi transparan. Kelulusan seratus persen yang "dibebankan" pada sekolah menjadi bumerang untuk mencapai tujuan, dan mendapatkan manfaat dari ujian ini. Sekolah-sekolah seperti berlomba-lomba menginginkan predikat untuk menjadi sekolah yang berhasil meluluskan siswa sebanyak-banyaknya. Memang belum ada penelitian apakah ada korelasinya antara target sekolah dan kecurangan-kecurangan yang terjadi pada penyelenggaraan UN.

Di detikcom, Mendiknas menyebut kecurangan dalam UN itu seperti narkoba. Mendiknas mengibaratkan orang yang tidak punya niat mengonsumsi narkoba tidak akan menerima tawaran narkoba meskipun itu gratis. Begitu juga dengan peserta ujian. Yang tak punya niat untuk curang tentu tak akan melakukan kecurangan meskipun ada peluang.

Jika kecurangan itu seperti narkoba, berarti bagi yang telah terbiasa berbuat curang harus ada shockterapy yang bisa menyembuhkan. Kecurangan disadari atau tidak bakal terbawa sampai nanti ketika oknum siswa yang terbiasa curang masuk ke dalam dunia nyata.

Indikasi itu sebenarnya sudah mulai terlihat. Ketika penyelenggara UN memperketat pengawasan ketimbang penyelenggaraan tahun sebelumnya, tetap saja ada yang coba- coba berbuat curang. UN pun yang sejatinya bertujuan untuk menyamakan standar pendidikan nasional, hasilnya malah bisa sebaliknya. Begitu juga dengan tujuan agar siswa siswi berbuat adil dan jujur, takkan tercapai, seperti kata pepatah jauh panggang dari api.
Read More...

Top 10 Daerah Dengan Nilai UN Terbaik

Persentase kelulusan pada satuan pendidikan SMA/MA/SMK tahun ini mengalami kenaikan lebih dari sembilan persen. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), 1.461.941 peserta ujian nasional (UN) SMA/sederajat tahun ajaran 2010/2011, 1.450.498 atau sama dengan 99.22 persen siswa lulus, sementara 11.443 atau sama dengan 0.78 persen siswa lainnya tidak lulus.

Tahun lalu, dari 1.522.195 peserta UN, sebanyak 1.368.938 atau sama dengan 89.93 persen siswa lulus, dan 153.257 atau sama dengan 10.07 persen lainnya tidak lulus. Berikut kami berikan ringkasan 10 daerah dengan rata-rata nilai akhir, nilai UN dan nilai sekolah terbaik.

Data Kemdiknas memaparkan, 10 daerah dengan persentase nilai akhir terbaik tahun ini adalah Bali (8.40), Sumatera Utara (8.17), Bengkulu (8.08), Jawa Barat (8.08), Jawa Timur (8.05), Sumatera Selatan (7.96), Sulawesi Utara (7.94), Lampung (7.91), Riau (7.90), Jawa Tengah (7.89), Sulawesi Selatan (7.84).

Sementara itu, 10 daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik adalah Bali (8.31), Bengkulu (8.07), Sumatera Utara (8.05), Jawa Barat (8.03), Jawa Timur (7.86), Sumatera Selatan (7.80), Sulawesi Utara (7.66), Lampung (7.67), Riau (7.91), Jawa Tengah (7.70), Maluku (7.69). Sedangkan 10 daerah dengan rata-rata nilai sekolah terbaik adalah Bali (8.51), Bengkulu (8.35), DI Yogyakarta ( 8.35), Sulawesi Utara ( 8.340, Jawa Timur (8.32), Lampung (8.25), Sumatera Selatan (8.25), Sumatera Selatan (8.19), Jawa Tengah (8.16), Sumut (8.16), Jawa Barat (8.13).
Read More...

Tuesday, September 20, 2011

UN di Ciamis Berlangsung Tertib

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) hari pertama Senin (18/4) di Ciamis berjalan tertib dan tidak ada laporan soal bocoran soal atau hal-hal lain yang menyebabkan terganggunya pelaksaan UN. Namun demikian, pada hari pertama itu, di sejumlah SMK ternyata ada sejumlah siswa yang tidak hadir, karena sakit.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Ciamis H.Iing Syam Arifin usai melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah di Ciamis, bersama Kapolres Ciamis AKBP,Agus Santoso dan Kadisdik Drs. H.Akasah. “Alhamdulilah pada hari pertama lancar. Semua peserta di tiap sekolah yang saya kunjungi, hadir semua,” ujar dia.

Senin kemarin, Iing bersama rombongan melakukan kunjungan ke SMKN 1 Ciamis, SMAN 1 Cihaurbeuti dan SMK Nurul Huda Kec. Panumbangan. Ke tiap sekolah yang dikunjungi, Iing mengecek kesiapan siswa, pendistribusian soal dan ruangan pengawas. Terkadang Iing juga langsung berdialg dengan guru dan pengawas.

Di tempat terpisah, Koordinator Pelaksana UN SMA/SMK Ciamis, H.Nana Ruhena m mengatakan bahwa keehadiran UN hari pertama mencapai 99%. Pasalnya ada sejumlah siswa yang tidak hadir dengan alasan sakit.

Siswa yang tidak hadir tersebut, kata dia, antara lain lima orang dari SMK, SMKN, SMK PGRI, SMK Hepweti, dan dua orang dari SMAN 1 Panjalu serta SMA Darusalam. “Ada juga yang tidak mengikuti UN karena meninggal dunia, yakni siswa SMK Putra Pangandaran,” ujar dia.
Read More...

Sunday, December 12, 2010

Jangan Khawatir UN Tidak Dihapuskan

Dinas Pendidikan Kota Gorontalo menyatakan bahwa penghapusan Ujian Nasional (UN) pada 2011 mendatang baru sebatas wacana. Sampai saat ini belum ada informasi yang jelas terkait penghapusan tersebut.

Kepala Seksi Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Dinas pendidikan Kota Gorontalo, Suleman Abdullah mengatakan, keputusan Mahkamah Agung (MA) menilai UN selama ini sarat masalah sehingga perlu ditinjau ulang oleh Pemerintah. Dengan demikian, UN tidak berarti segera dihapuskan.

"Namun kami belum mendapatkan informasi yang jelas, sehingga pelaksanaan UN tetap dipersiapkan," kata Suleman, Senin (6/12/2010).

Menurutnya, UN tetap dianggap oleh pemerintah sebagai salah satu tolak ukur penilaian keberhasilan pendidikan. Untuk itu, pihaknya tengah mempersiapkan pelaksanaan UN sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan Nasional saat ini dengan melakukan pertemuan rutin bersama guru-guru di kota tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI akan tetap mendukung pelaksanaan ujian nasional (UN) 2011 dengan syarat tidak menjadi penentu mutlak kelulusan siswa. Untuk itu, Komisi X DPR memberi waktu pada Kementerian Pendidikan Nasional dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk merumuskan formula baru UN yang tidak memveto kelulusan siswa sebelum masa sidang DPR berakhir pada pertengahan Desember ini.
Read More...