Showing posts with label Ujian Nasional. Show all posts
Showing posts with label Ujian Nasional. Show all posts

Thursday, September 22, 2011

Solusi Tidak Lulus UN

Mungkin Anda bertanya bagaimana apabila saya tidak lulus Ujian Nasional (UN) 2012 tingkat SMA?. Apakah saya bisa mengikuti UN ulang seperti tahun sebelumnya dan jika tidak ada, apakah saya wajib mengulangi dalam satu tahun. Kalau tidak mengulang belajar selama satu tahun apakah saya bisa mengikiuti ujian paket C. Selanjutnya apakah ijazah paket C bisa digunakan untuk melanjutkan ke perguran tinggi atau Unversitas serta bisa untuk melamar kerja. Nah apa sich solusinya, Inilah salah satu solusi terbaik untuk Anda!.

Pemerintah dalam hal ini Kemdiknas sudah mengeluarkan kebijakan untuk mengadakan ujian kesetaraan untuk tingkat pendidikan, seperti:

1. Kejar Paket A dapat mengikuti ujian kesetaraan SD
2. Kejar Paket B dapat mengikuti ujian kesetaraan SLTP
3. Kejar Paket C dapat mengikuti ujian kesetaraan SMU/SMK/MA

Terkait masalah Anda tersebut bisa mengulang di kelas tiga selama satu tahun atau mengikuti Kejar Paket C setara SMA yang hanya syaratnya siswa mengikuti pelajaran kelas selama tiga bulan. Untuk Kejar Paket C ini setahun diselenggarakan dua kali. Setiap peserta yang lulus berhak mendapat ijazah yang setara dengan pendidikan formalnya. Ijazah Kejar Paket C nilainya sama dengan ijazah SMA. Artinya, bisa untuk meneruskan sekolah maupun mencari pekerjaan. Selain itu bagi para pegawai negeri sipil, TNI/Polri, pegawai kelurahan, perangkat desa, dan lain sebagainya, bisa mengikuti ijazah Kejar Paket C setara SMA ini untuk penyesuaian golongan atau pangkat.
Read More...

Guru Curang di UN Bisa Dipecat

Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang akan menindak tegas bagi siapa saja yang curang dalam Ujian Nasional. Sanksi tegas akan diberikan mulai sanksi administrasi sampai pemecatan.

"Kami tak main-main untuk memberikan sanksi, kalau sampai ada guru yang memberikan jawaban soal kepada peserta UN, baik melalui kertas, SMS, maupun strategi kecurangan lainnya," Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang Drs Ngaderi Budiyono, Selasa (01/3/2011).

Ia mengatakan, sanksi yang diberikan tak akan tebang pilih. Kami tak segan keluarkan sanksi bagi guru, kepala sekolah, maupun pengawas ujian yang curang," ujarnya.

Budiyono menambahkan, pihaknya sudah menyosialisasikan UN 2011 sejak Desember 2010. UN 2011 untuk tingkat SMA/MA/SMK akan dilaksanakan 18 April 2011 hingga 21 April 2011. Tingkat SMP/MTs/SMPLB pada 25 April 2011 hingga 28/4/2011.

"Terkait pelaksanaan UN kami imbau agar sekolah-sekolahbersikap jujur sesuai hati nurani," ujarnya.

Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMK Muhamadiyah 1 Mertoyudan, M Mahfudz, mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan UN melalui pelatihan soal-soal ujian.

Pelatihan itu diharapkan siswa bisa lebih siap menghadapi UN 2011. "Di sini (SMK Muhamadiyah 1 Mertoyudan)kejujuran menjadi acuan utama," katanya.
Read More...

Menurut Mendiknas UN Bisa Dihapus

Sebuah pernyataan yang cukup mengagetkan dari Mendiknas bahwa UN Bisa dihapus jika UN terbukti tidak efektif, maka Kementerian Pendidikan akan menghapus ujian nasional tersebut. Hal itu dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/6), saat menghadiri pembagian rapor siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Gadel, Tandes, Surabaya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tahun 2011 Kementerian Pendidikan Nasional mempercepat evaluasi penyelenggaraan ujian nasional.

Evaluasi itu dilakukan terkait adanya beberapa kasus sontekan massal di sejumlah sekolah sepanjang pelaksanaan ujian nasional.

Jika terbukti tidak efektif, Kementerian Pendidikan akan menghapus ujian nasional tersebut.

Hal itu dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/6), saat menghadiri pembagian rapor siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Gadel, Tandes, Surabaya.

Nuh menegaskan, pendidikan tidak boleh statis. Jika tidak efektif, ujian nasional dapat dihapuskan agar kasus contek massal tidak terjadi lagi.

Saat ini, kata Nuh, Kementerian Pendidikan Nasional masih mengkaji berbagai kemungkinan untuk memperbaiki sistem evaluasi pendidikan. Mulai di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

Perbaikan sistem ini sekaligus juga ditujukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Dikaji ulang

Sementara itu Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin mengemukakan, berkaca dari kasus contekan massal di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya dan SDN 06 Pesanggrahan, mengusulkan ujian nasional di tingkat Sekolah Dasar (SD) dikaji lagi.

Bagi Lukman hakim, anak-anak SD tidak perlu mengikuti ujian nasional.

"Apakah sudah tepat untuk SD itu dilakukan ujian nasional? SD tidak perlu lagi ujian nasional toh dia akan sampai ke SMP karena wajib belajar 9 tahun kan dari SD ke SMP," katanan dalam acara diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (18/6).

Dikatakan dia, pelaksanaan ujian nasional khususnya tingkat sekolah dasar harus dicermati kembali karena ekses adanya ujian nasional banyak sekali bermunculan.

"Seperti yang terjadi di Surabaya dan Pesanggrahan. Namun, tenaga pendidik tidak begitu saja bisa disalahkan saat memberikan contekan kepada para anak didiknya karena ada sistem yang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Di mana para guru akan berbuat apapun untuk nama baik sekolah," tambahnya.

Menurut dia, para pendidik melakukan itu untuk mempertahankan kualitas sekolahnya sehingga seharusnya sistem yang harus diperbaiki. (

Sumber : Situs Resmi Menkokesra
Read More...

Wednesday, September 21, 2011

UN di Yogyakarta Paling Jujur

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kembali memperoleh predikat terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia dalam soal kejujuran pelaksanaan ujian nasional.

"Tahun ini, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih dinyatakan sebagai provinsi yang paling jujur dalam melaksanaan Ujian Nasional (UN)," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Baskara Aji di Yogyakarta, Minggu (15/5).

Menurut dia, predikat tersebut diberikan berdasarkan penilaian tim independen yang tidak banyak mendapat keluhan atau teguran selama pelaksanaan ujian nasional.

Selain itu, predikat tersebut juga dilakukan berdasarkan analisis terhadap pola jawaban peserta Ujian Nasional.

"Jika ada pola jawaban dengan kesalahan yang kembar, maka ada kemungkinan terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional," ujarnya.

Berdasarkan penggabungan nilai ujian nasional dan ujian akhir sekolah, di Provinsi DIY terdapat 198 siswa dari 41.700 siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan yang dinyatakan tidak lulus.

Di tingkat Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, tingkat kelulusan tertinggi berada di Kabupaten Bantul mencapai 99,66 persen atau hanya ada 15 dari 4.443 siswa yang tidak lulus.

Tingkat kelulusan tertinggi untuk Sekolah Menengah Kejuruan masih dipegang Kabupaten Bantul dengan 99,88 persen atau hanya ada lima siswa dari 4.190 siswa yang tidak lulus.

Kriteria kelulusan berdasarkan nilai Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah adalah rata-rata 5,5 dan tidak boleh ada nilai di bawah 4,0.
Read More...

Kelulusan UN SMP di Bali Bernuansa Religius

Suasana pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) tingkat SMP/MTs di Bali penuh nuansa religius, karena setiap sekolah di seluruh Bali menyelenggarakan doa bersama di Pura sekolah, khususnya bagi siswa yang beragama Hindu.

Doa bersama tersebut bertujuan untuk mempersiapkan mental siswa sebelum menerima hasil ujian nasional (UN. Diharapkan dengan didahului doa bersama it para siswa nantinya tidak meluapkan emosi berlebihan saat diumumkan hasil kelulusan.

"Kami menghimbau suasana pembagian religius agar kegembiraan tidak dirayakan secara berlebihan," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Bali, I Wayan Suasta. "Kami harap siswa yang lulus dapat menjaga perasaan siswa yang tidak lulus," tambahnya.

Di Bali tingkat kelulusan tahun ini merosot dibandingkan tahun lalu. Dari 55.181 peserta yang mengikuti UN, jumlah yang tidak lulus mencapai 774 siswa atau 1,40 persen. Sementara tahun lalu, dari 52.067 yang tidak lulus hanya 214 siswa atau 0,41 persen.
Read More...

Sekolah yang Menggelar UN 2 kali

Penguasaan teknologi dan bahasa Inggris menjadi salah satu kunci dalam menghadapi persaingan global dunia. Karenanya, baik teknologi maupun bahasa Inggris menjadi fokus utama SMP Negeri 6 Batam dalam mendidik siswanya.

Hal tersebut sekaligus disejalankan dengan status sekolah ini yang sudah menyandang predikat sebagai Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Tak hanya itu, memasuki tahun keempat, sekolah ini mulai memberlakukan semua kelas masuk dalam standar RSBI.

Menurut Rizal Ramadhani, Wakil kesiswaan SMP Negeri 6 Batam, sekolah ini memiliki nilai plus yaitu kurikulum nasional yang dipadukan kurikulum internasional.

"Dengan kurikulum plus ini, anak didik kami pun memiliki pengetahuan bahasa Inggris dan teknologi informasi. Kedua hal tersebut merupakan bekal mereka bersaing di dunia global," ujar Rizal Ramadhani.

Sebagai sekolah RSBI, sekolah yang terletak di jalan Laksamana Bintan, Sei Panas ini memberlakukan sistem pelajaran bilingual alias pengajaran dua bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Indonesia.

"Pelajaran bilingual ini berlaku untuk mata pelajaran Fisika, Matematika, Biologi dan bahasa Inggris," ungkap Rizal Ramadhani. Tahun 2010, SMP 6 Batam memberlakukan hanya enam kelas yang masuk standar RSBI, namun untuk tahun 2011 semua lokal yang berjumlah tujuh kelas menggunakan standar RSBI.

Rizal menjelaskan, SMP 6 Batam memiliki fasilitas teknologi yang mendukung pembelajaran standar RSBI seperti hotspot internet dan infokus. "Dengan adanya teknologi ini belajar siswa dapat lebih menarik. Misalnya saja dengan infokus siswa pun dapat lebih mendetail dalam menerima informasi. Belajar secara diskusi ini pun akan memacu siswa mencari data di internet, kemandirian pun dapat dibentuk," tuturnya.

Nah, salah satu keuntungan sekolah RSBI, setiap semester diberlakukan ujian nasional untuk kelas satu, dua dan tiga. Pemantapan pun dilakukan selama dua jam setelah pulang sekolah.

"Ujian nasional diikuti sekolah RSBI se-Indonesia. Misalnya saja tanggal 11 Mei mendatang kami akan menyelengarakan UN. Semester lalu SMP 6 Batam berada di ranking 17 dari 120 sekolah RSBI," jelasnya.

Dengan adanya UN ini, siswa diharapkan tak perlu takut lagi dalam menghadapi UN karena sudah terbiasa. Selain itu, SMP 6 Batam memiliki berbagai fasilitas seperti laboratorium bahasa, laboratorium komputer, lapangan olahraga, AC dan Loker.

Jadi tak salah dong dengan segudang fasilitas yang diberikan, siswa-siswa pun terpacu untuk berprestasi. Sederet prestasi yang telah diraih seperti Cerdas Cermat, Pramuka, PMR, IT, Siswa Berprestasi, Story Telling dan banyak lagi.
Read More...

Pengumuman UN SMP 2011

Pengumuman hasil ujian nasional (UN) tingkat SMP/MTs/SMPLB tahun 2011 diumukan pada 4 Juni 2011. Sebelumnya, pengumuman UN ini rencana akan dilaksanakan pada 28 Mei 2011. Prosedur pengumuman hasil UN itu sama seperti kelulusan tingkat SMA/MA/SMK/SMALB. Pengumuman juga dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB di masing-masing sekolah. Kemudian setiap peserta UN akan dibagikan amplop yang berisikan surat yang menyatalan lulus atau tidaknya siswa tersebut. "Untuk hasil UN sama kita lakukan seperti kelulusan SMA beberapa waktu lalu.


Peserta UN bisa dinyatakan lulus, apabila nilai memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan dasar yang diperoleh dari gabungan nilai ujian semester dan nilai rata-rata rapor pada semester 1,2,3,4 dan 5.

Nilai pada ujian akhir yang diambil dengan pembobotan 60 persen dan 40 persen untuk nilai rata-rata rapor. Kemudian dari pengambungan nilai tersebut maka diambil 40 persen selanjutnya ditambahkan dengan nilai hasil UN sebesar 60 persen. Jadi nilai untuk menentukan kelulusan hasil UN juga diambil dari rata-rata rapor tidak hanya hasil ujian akkhir saja.

Rp 500 Ribu Setiap Nilai UN Angka 10

Tahun ini SMPN 5 Tanjungpinang benar-benar panen prestasi ujian akhir nasional (UAN). Bagaimana tidak, setelah siswa sekolah itu Reza Trianto membukukan nilai terbaik se-Kepulauan Riau, sekolah tersebut juga menduduki peringkat pertama UAN di Tanjungpinang.

Selain Reza, dua siswa lainnya juga masuk jajaran 10 besar se-Kepri. Yaitu Steven di urutan tiga dengan nilai 38,20 dan Silvi Eka Putri di urutan ketujuh, dengan nilai 38,00. Tak hanya itu saja, 11 siswa dari sekolah itu berhasil meraih nilai 10 dari total 29 siswa se-Tanjungpinang yang meraih nilai sempurna.

Reza mendapat nilai 10 untuk pelajaran matematika, sedangkan sisanya 10 siswa meraih nilai sempurna pada pelajaran Bahasa Inggris. Irmalinda, Kepala SMPN 5 Tanjungpinang mengaku tidak terlalu surprise dengan prestasi siswanya yang meraih nilai 10.

“Malah kami target yang dapat nilai 10 itu 20 orang,” ujar Irmalinda, Sabtu (4/6). Tak hanya itu saja prestasi sekolah tersebut, SMPN 5 juga meraih peringkat tertinggi di Tanjungpinang. Dengan rata-rata jumlah nilai siswa 32,52.

Disamping itu, delapan siswanya juga masuk jajaran 10 besar di Kota Tanjungpinang. Prestasi tersebut ternyata tak mengagetkan para guru. Karena delapan siswa tersebut adalah tutor sebaya, yang sehari-hari juga turut memberikan materi di depan kelas layaknya guru.

Tutor sebaya ini tidak hanya memiliki kemampuan di atas rata-rata temannya di sekolah, mereka juga mengikuti pelatihan selama dua bulan. “Jadi kami sudah punya program dan jadwal. Misalnya kalau dalam seminggu ada tiga jam pelajaran matematika, satu jam diajarkan oleh tutor sebaya ini,” sebut Irmalinda.

Program tutor sebaya tersebut dipandang lebih efektif, karena siswa tak segan bertanya dengan teman sebaya. Mereka tak ragu bertanya lebih detail lagi. Disamping itu mereka tetap bisa saling berkirim pesan singkat, bila ada pertanyaan yang tak dimengerti.

Waktu juga lebih efektif. Karena disaat istirahat, siswa bisa saling bertanya. Begitu juga disaat guru sedang ada kesibukan lain, tutor sebaya bisa mengambil peran menjadi guru di depan kelas. “Kami juga memberikan uang lelah, lumayan untuk tambah uang jajan. Mereka dikasih Rp 30 ribu untuk satu jam pelajaran,” terang Irmalinda.

Akhirnya, para siswa yang berprestasi dan mendapat nilai 10 tersebut juga akan mendapatkan reward dari sekolah. “Ada juga lah. Mungkin tak sebesar dari wali kota, tapi adalah,” ujar Irmalinda. Sebelumnya Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan sudah berjanji akan memberikan reward bagi siswa yang berprestasi pada UAN kali ini. “Jumlahnya sama kayak tahun lalu, Rp 500 ribu untuk yang dapat nilai 10,” sebut Tatik.

Bali Raih Nilai UN SMP Tertinggi

Provinsi Bali berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi tingkat SMP/MTs. Nilai rata-rata UN SMP/MTs Provinsi Bali mencapai 8,11. Sebelumnya, di tingkat SMA/sederajat, SMAN 1 Denpasar, Bali, menduduki posisi keenam nasional dengan nilai rata-rata 9.34.

Posisi kedua diduduki Sumatera Utara dengan nilai rata UN 8,04 dan ketiga adalah Jawa Timur dengan nilai rata-rata 7,86. Sementara dengan nilai rata-rata 6,71, Provinsi Kalimantan Barat menempati posisi sebagai daerah dengan nilai rata-rata UN terendah.

SMP Terbuka dan PGRI 100 Persen Tak Lulus

Dalam pengumuman kelulusan Ujian Nasional 2011 tingkat SMP, terdapat dua SMP di Jawa Timur yang siswanya tidak lulus 100 persen karena jumlah siswa di sekolah itu hanya enam orang dan sembilan orang.

Kedua sekolah yang tidak lulus 100 persen adalah SMP Terbuka Sumenep yang siswanya hanya enam orang dan SMP PGRI Kedawen, Bojonegoro, yang siswanya hanya sembilan orang. Demikian seperti diterangkan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur M Harun di Surabaya, Kamis (2/6/2011).

Jabar Peringkat Pertama Kelulusan SMP/MT

Provinsi Jawa Barat berada di peringkat pertama nasional dalam hal persentase kelulusan siswa dalam ujian nasional tingkat SMP/MTs 2011 ini. Pengumuman kelulusan disampaikan lewat surat ke alamat rumah siswa pada hari ini.

Ada kenaikan persentase kelulusan siswa SMP/MTs pada ujian nasional tahun ini dibandingkan tahun lalu. Saat ini, sebanyak 99,96 persen, atau 651.245 siswa lulus ujian. Tahun lalu, tingkat kelulusannya 99,95 persen.

Jumlah peserta ujian nasional tingkat SMP/MTs di Jawa Barat pada tahun ini adalah 651.534 peserta. Sebanyak 289 siswa di antaranya tidak lulus. Sedangkan tahun lalu, jumlah pesertanya 636.521 siswa, 350 di antaranya gagal.

Selain ada peningkatan jumlah kelulusan siswa, nilai rata-rata ujian pada tahun ini juga naik 0,47. Tahun lalu, nilai rata-rata ujian nasional adalah 29,34, sedangkan tahun ini menjadi 29,81.
Read More...

Jadikan UN sebagai Tantangan

Kunci sukses lulus ujian nasional adalah selalu belajar dan berlatih soal. Sebab, semakin banyak latihan, soal ujian negara nggak bakalan jadi beban tapi justru jadi tantangan yang harus dilewati.

"Rajin latihan soal akan akan membentuk mental positif. UN gak akan jadi momok tapi jadi tantangan untuk maju menggapai cita-cita," jelas Bapak Mahmudi Arif Dahlan, Direktur Ganesha Bandung.

Materi ujian nasional dibentuk sedemikian rupa agar siswa bisa menjawabnya. Jadi setiap siswa mampu mengikuti UN dan lulus. "Jadi, tergantung bagaimana siswa belajar dan berlatih menghadapi UN," ungkapnya.

Salah satu cara berlatih adalah rajin ikutan try out. Keberadaan try out mampu membantu suksesnya UN. "Akan ada perbedaan antara yang ikut try out dengan yang tidak. Jika rajin ikutan try out biasanya lebih pede dibanding yang sama sekali tak pernah ikutan try out," katanya.

Dengan ikutan try out, youngsters juga bakal bisa mempelajari banyak materi dan pengetahuan. Berbagai bentuk soal bisa ditemui. Nah, di situ akan terjadi proses belajar. Setelah rajin mengikuti try out, siswa akan mengetahui letak kelemahan mereka. Misalnya, seorang siswa kedodoran pada mata pelajaran matematika, maka yang difokuskan adalah bidang tersebut.

"Bahas kekurangan kamu dengan guru di sekolah atau tentor di tempat bimbingan belajar. Guru maupun tentor akan memberikan solusi yang terbaik menghadapi kelemahan," katanya. Proses pembelajaran untuk menghadapi UN bukan proses sebentar tapi merupakan proses yang dimulai sejak kamu masuk kelas satu SMP mau pun SMA.

Oleh sebab itu, pastikan youngster harus mempersiapkan segala sesuatunya sejak dini. Semakin matang persiapan tersebut, maka hasilnya pun akan berbeda dibandingkan tanpa persiapan sama sekali. So selagi masih ada waktu mempersiapkan segalanya, kenapa tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya.
Read More...

Siswa Nakal Bisa Tidak diikutkan Ujian Nasional

Karena dianggap nakal, lima siswa SMP PGRI 1 Kotabaru dikeluarkan dari sekolah. Imbasnya, mereka tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) yang digelar satu bulan lagi.

Sikap keras dipelihatkan Kepala SMP PGRI 1 Purhani dan para guru. Purhani mengungkapkan lima siswa itu dikeluarkan secara tidak bersaman dalam sebulan ini. Alasannya, para guru tidak kuat lagi menanggung beban moral karena perilaku mereka.

Disebutkannya, lima siswa itu sering tidak masuk sekolah dan melawan jika ditegur. "Kami mengeluarkan karena ada bukti-bukti pelanggaran yang mereka lakukan. Sekolah bisa menerima mereka lagi, tetapi setelah ajaran baru. Itu pun dengan catatan mereka harus mengubah perilaku," ucap Purhani.

Tidak hanya itu. Dia juga beralasan, para guru khawatir jika kelimanya tetap masuk sekolah bisa mengganggu konsentrasi belajar murid lainya menjelang UN.

Tindakan ini membuat orangtua mereka marah.Tidak terima dengan dengan keputusan dewan guru, orangtua salah seorang siswa itu mengajukan protes. Jumat (18/3/2011), mereka mendatangi sekolah yang berlokasi di Gang Mawar, Jalan Veteran, Kotabaru.

"Seharusnya para guru bisa memaklumi kenakalan remaja. Kalau harus dikeluarkan, mereka harus membuat rekemondasi pemindahan ke sekolah lain. Jangan main berhentikan, apalagi mendekati ujian," ujar Arbani. Dia adalah ayah seorang siswa yang diberhentikan, Andra Atmi.

Selain Andra, dewan guru sekolah itu memberhentikan Risky Afrizal, Genta Saputra, Romiadi dan Arif Darmawan. Semuanya siswa kelas III.

Arbani mengatakan, jika dewan guru tetap bersikukuh dengan keputusan yang membuat anaknya tidak bisa mengikuti UN, persoalan itu akan diadukan ke aparat hukum. "Setelah ini saya melapor ke DPRD," ucapnya.

Sebelumnya, Arbani mengadukan permasalahan itu ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kotabaru. "Disdik berjanji memfasilitasi dengan mempertemukan kami dengan para guru. Kalau tidak selesai, terpaksa ke jalur hukum. Keputusan mereka merusak masa depan pendidikan anak saya," ujarnya.

Saat ditanya perasaannya, Andra mengaku dalam kondisi bingung. "Saya masih ingin sekolah. Saya berjanji memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan," ucapnya.
Read More...

UN Susulan Bagi Siswa Sakit

Dua siswa SMA mengikuti Ujian Nasional (UN) susulan di SMA Negeri 1 Palembang, Senin (25/4/2011). Mereka adalah M Marwan Ramadan (17), siswa Quraniah dan Darwin (17), siswa SMA Sumsel Jaya.

Keduanya merupakan siswa yang tidak mengikuti Ujian Nasional secara langsung pada Senin (18/4) karena alasan sakit. Ujian pertama, mereka mengikuti UN susulan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut petugas pengawas, seharusnya ada lima siswa yang ikut ujian nasional susulan. Tetapi, mereka tidak tahu informasi ketiga siswa lainnya.
Read More...

Siswa SLB pun Ikut Ujian Nasional

Pelaksanaan ujian nasional untuk pelajaran Matematika di Sekolah Luar Biasa Kartini Batam, Kepulauan Riau, Selasa (26/4) berlangsung normal. Kedua peserta ujian, Kurniadi dan Tiara Sukma tidak terlihat tegang seperti hari pertama ujian kemarin. Meski demikian, dalam pengerjaan soal-soal ujian itu, kedua siswa sekolah luar biasa itu terkesan rileks.


Dua guru pengawas yang berada di ruang ujian terlihat sangat ramah, sehingga suasana dalam ruang berukuran 4 x 5 meter tidak terasa tegang.


"Soal-soal ujian yang barusan saya kerjakan itu cukup berat. Tapi saya mengerjakan yang mudah dulu, soal-soal yang susah dilewati dulu," ujar Tiara Sukma kepada Tribun dengan bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan oleh guru setempat, Sudojo.


Menurut Sudojo, untuk pelaksanaan ujian nasional agak berbeda karena ruang pengawas juga ditunggu oleh dua petugas dari kepolisian.


"Kalau pelaksaan ujian tidak jauh beda, cuma sekarang dijaga oleh petugas dari kepolisian. Jadi kesannya agak lain. Kalau dulu petugas mengawal soal saja tetapi sekarang menunggu sampai ujian selesai," ujar Sudojo.
Read More...

Persiapan MAN Batam Dalam UN

Ujian Nasional menjadi ajang adu strategi bagi pihak sekolah, bagaimana kiat para guru agar siswanya bukan hanya lulus tapi bisa mengerjakan soal UN yang dianggap sulit dari soal Try out.

Salah satu sekolah yang sudah menerapkan langkah strategi bagi siswanya seperti yang dilakukan sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Batam, pihak sekolah sengaja mengurangi jumlah siswa per rombongan belajar (rombel) agar lebih konsentrasi saat belajar.

Kepala sekolah MAN Batam, Dra Dahniarti MSi, mengatakan, khusus siswanya Kelas XII (dulu Kelas III) jumlah dalam ruangan kelas dikurangi. Saat di Kelas II, siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebanyak 59 orang dibagi dalam dua kelas saja.

"Setelah Kelas XII, kita bagi menjadi tiga kelas masing-masing 20, 20 dan 19 orang. Sedangkan jurusan IPA tetap satu kelas karena jumlahnya hanya 27 orang saja," ujarnya.

Tujuannya, agar siswa bisa belajar lebih efektif dan konsentrasi. Guru yang mengajar juga bisa lebih fokus saat mendidik, melakukan diskusi dan pembinaan lainnya. Sudah tentu lebih mudah mendidik siswa dengan jumlah sedikit seperti itu.

Wakil Kepala Sekolah MAN Batam bagian Kurikulum, Mulianto SAg,
menambahkan,setelah jumlah siswa dikurangi dalam setiap kelas, nilai mereka juga naik. Hal itu bisa dilihat dari nilai rata-rata jika semester dibandingkan saat mereka masih Kelas XI (Kelas II).

"Program ini memang bagus. Makanya kami sebut kelas istimewa. Guru-guru kelas dan bidang studi juga merasa lebih mudah mengajari mereka. Kita yakin, program ini akan mendongkrak nilai UN nanti," ujarnya.

Nurlailis, Wakil Kepala Sekolah bagian Humas, menjelaskan, selain program kelas istimewa tersebut, mereka juga sudah melakukan pemantapan kepada siswa Kelas XII sejak setahun lalu. Artinya, pemantapan dilakukan ketika siswa baru duduk di Kelas XII.
Biasanya, pemantapan yang mereka lakukan sama seperti sekolah lainnya yakni penambahan jam mata pelajaran khusus mata bidang studi yang di UN kan.

Pemantapan ini dilakukan saat siswa sudah pulang sekolah selama dua hingga tiga jam.Siswa juga megikuti try out selama tiga kali. Hasilnya cukup memuaskan. Try out pertama lulus 75 persen, try out kedua lulus 80 persen dan try out ketiga lulus
85 persen. Jumlah ini meningkat dari tahun 2010 lalu, di mana rata-rata
kelulusan siswa hanya 50 persen saat try out pertama.

Mereka yakin, siswanya Kelas XII sebanyak 88 orang yang akan ukit UN bisa lulus 100 tahun 2011 ini. Sebab, di tahun 2010 lalu hanya satu orang saja siswanya yang tak lulus."Harapan kita memang harus bisa lulus 100 persen. Karena berbagai program sudah kita lakukan," tutur Dahniarti.

Rata-rata pihak sekolah yakin tingkat kelulusan siswanya akan tinggi tahun ini. Sebab, sangat terbantu dengan adanya program penambahan nilai semester IV-V-VI dalam penentuan nilai siswa plus hasil nilai UN. Di mana nilai UN berbobot 60 persen dan nilai semester berbobot 40 persen. Bisa dipastikan, rata-rata nilai semester siswa 6,7,8,9 bahkan ada yang nilai 10.
Read More...

Tips Memilih Alat Tulis Ujian Nasional

Ujian merupakan hal penting yang harus dilalui oleh setiap pelajar sekolah agar bisa melangkah ke tahap berikutnya. Untuk itu perlu persiapan yang tidak mudah. Akan tetapi banyak pelajar yang melakukan persiapan yang kurang tepat ketika menghadapi ujian, terutama ketika memilih alat tulis untuk ujian.

Lulus ujian merupakan satu hal yang didambakan setiap pelajar dimanapun. Untuk bisa lulus ujian kita bisa bagi menjadi 2 faktor besar : faktor teknis dan nonteknis. Faktor teknis merupakan semua hal yang berkaitan dengan proses belajar seperti membaca, memahami, berlatih, dan sebagainya.

Faktor non teknis meliputi pemilihan alat tulis, kondisi psikologis dan lainnya. Menurut Promotion Coordinator Marketing Department PT Faber-Castell International Indonesia, Evi Erliyanti, tips untuk menjawab faktor non teknis diatas adalah bagaimana memilih alat tulis yang baik untuk ujian.

Tips tersebut yakni:

1. Memilih pensil dengan diameter isi pensil 2.8 mm dengan tingkat ketebalan 2B
2. Pilih pensil yang memiliki pori-pori kayu paling padat
3. Pilih pensil yang memiliki leads (isi pensil) hitam dan mengkilat
4. Pilih pensil yang memiliki leads (isi pensil) di tengah.
5. Pilih penghapus khusus EBTA dan SPMB.

Selain tips di atas berikut beberapa hal penting lain yang harus dilakukan ketika menghadapi ujian, yakni gunakan produk paket ujian dan tidak dianjurkan menggunakan pensil mekanik.
Read More...

Tuesday, September 20, 2011

UN Tidak Lagi Satu-satunya Ukuran Kelulusan

Ujian Nasional tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran bagi kelulusan siswa mulai tahun akademik 2010-2011. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan rapat Dewan Guru. Meski demikian, siswa harus lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lulus ujian nasional.

“Kriteria kelulusan didasarkan atas kriteria, siswa menyelesaikan seluruh program pembelajaran; Siswa memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan jasmani, olahraga, dan kesehatan,” kata anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Prof. Furqon, Ph.D. dalam rapat koordinasi dan sosialisasi Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Bandung, Kamis (13/1).

Rapat koordinasi dan sosialisasi UN dan UASBN yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Prof. Dr. Wahyudin Zarkasy, CPA tersebut diikuti para Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota seluruh Jawa Barat, Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, dan dari perguruan tinggi yang terlibat dalam penyelenggaraan UN dan UASBN.

Menurut Furqon, kriteria penyelesaian seluruh program pembelajaran adalah, siswa SD/MI harus memiliki rapor Semester 1 sampai 12; siswa SMP/MTs harus memiliki rapor Semester 1 sampai 6; siswa SMA/MA harus memiliki rapor Semester 1 sampai 6; siswa SMK 3 tahun harus memiliki rapor Semester 1 sampai 6; dan siswa SMK 4 Tahun harus memiliki rapor Semester 1 sampai 6.

Sedangkan kriteria nilai “baik”, kata Pembantu Rektor I Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing untuk empat kelompok mata pelajaran. Yaitu, kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; Kelompok mata pelajaran estetika; Dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Mengenai kriteria kelulusan ujian sekolah/madrasah untuk SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK, ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan nilai sekolah/madrasah untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Furqon mengemukakan, nilai sekolah/madrasah (satuan pendidikan) adalah gabungan 0,60 nilai Ujian Sekolah dan 0,40 rata-rata nilai rapor Semester 3,4, dan 5 untuk SMA/MA; Gabungan 0,60 nilai Ujian Sekolah dan 0,40 rata-rata nilai rapor Semester 1,2,3,4, dan 5 untuk SMP/MTs; Nilai kompetensi kejuruan adalah gabungan 0,70 nilai ujian praktik kejuruan + 0,30 nilai teori kejuruan, di mana kriteria kelulusan kompetensi, kata Furqon. Yang dimaksud kejuruan adalah minimum 6,0, dengan catatan, ujian praktik kejuruan dilaksanakan sebulan sebelum UN dan ujian teori kejuruan dilaksanakan sehari sebelum ujian praktik kejuruan.

Menjelaskan tentang lulus Ujian Nasional, Furqo mengungkapkan rumus NA = 0,60 UN + 0,40 NS. (NA=Nilai Akhir; NS=Nilai Sekolah/Madrasah; UN=Nilai Ujian Nasional). Sementara kriteria kelulusan UN adalah rata-rata NA minimum 5,5 dan tidak ada nilai di bawah 4,0. Sedangkan kelulusan dari satuan pendidikan dirapatkan Dewan Guru dengan memperhatikan nilai akhlak mulia.
Read More...

Jenis-jenis Ujian Nasional

Ujian Nasional atau UN merupakan suatu aktivitas pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada jenjang pendidikan dasar termasuk di dalamnya satuan pendidikan SD (Sekolah Dasar) dan MI (Madrasah Ibtidaiyah), sedangkan di level pendidikan yang lebih tinggi adalah SMP (Sekolah Menengah Pertama), MTs (Madrasah Tsanawiyah), SMA (Sekolah Menengah Atas), MA (Madrasah Aliyah), dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Nah dalam artikel ini kami akan menjelaskan Jenis-jenis Ujian Nasional yang tentunya berbeda namanya sesuai dengan level satuan pendidikannya.

Jenis-jenis Ujian Nasional



Ujian Nasional Sekolah Dasar



Ujian Nasional Sekolah Dasar atau dikenal dengan istilah UN SD (dulu bernama UASBN) merupakan aktivitas pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar, baik SD atau MI. Perubahan istilah Ujian Nasional untuk Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah yang semula bernama UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional)belum tersosialisasikan secara optimal ke publik pendidikan di Indonesia. Sejak UN 2011 UASBN berubah nama menjadi UN SD (Ujian Nasional Sekolah Dasar), merupakan ujian nasional di tingkat SD / MI yang diadakan setelah ujian SMA dan SMP. Soal UN SD dibuat oleh Dinas Pendidikan provinsi(75%) dan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)(25%). Mata pelajaran yang diujikan hanya ada tiga, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Pelaksanaan UN SD dibagi 2 tahap tahap pertama ialah utama dan yang kedua ialah susulan bagi yang tidak ikut UN SD utama dapat ikut UN SD susulan. Peserta yang belum lulus UN SD dapat mengikutinya tahun depan.


Dasar Hukum Berlakunya UN SD

Pelaksanaan UN SD memiliki landasan yuridis yang sangat jelas. Dari mulai Undang – Undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 58 ayat (2), kemudian Peraturan Pemerintah No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 94 ayat (d), lalu ada pula peraturan pemerintah No.39 tentang Ujian Akhir sekolah Bersandar Nasional (UASBN) dan Pos UASBN 2007/2008.

Bukan hanya itu, masih ada pula Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, Pasal 94 butir (d) yang menyebutkan bahwa Ujian Nasional untuk peserta didik SD/MI/SDLB mulai dilaksanakan sejak tiga tahun sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini. Jadi, ujian nasional SD/MI/SDLB harus dilaksanakan mulai tahun ajaran 2007/2008. Nah, implementasi dari berbagai peraturan itulah, maka Diknas menyelenggarakan UASBN melalui Badan Standar Nasional Pendidikan.

Manfaat UN SD

Pertama, pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan.
Kedua, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya,
Ketiga penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan
Keempat menjadi dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama



Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama atau dikenal dengan istilah UN SMP merupakan aktivitas pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah yang mencakup SMP dan MTs.

Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas



Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas atau dikenal dengan istilah UN SMA merupakan aktivitas pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah atas yang mencakup SMA dan MA.

Ujian Nasional Sekolah Menengah Kejuruan



Ujian Nasional Sekolah Menengah Kejuruan atau dikenal dengan istilah UN SMK merupakan aktivitas pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah kejuruan (vocational), baik program teknik atau non teknik.
Read More...

Tuesday, December 21, 2010

Ujian Nasional

Istilah Ujian Nasional terdiri dari 2 (dua) kata gabung yakni Ujian dan Nasional. Ujian mempunyai arti tes, yakni sejenis penilaian yang dimaksudkan untuk mengukur pengetahuan tes-taker itu, keterampilan, bakat, kebugaran fisik, atau klasifikasi dalam topik lain (misalnya, keyakinan). Sedangkan term Nasional menunjuk pada suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Mereka umumnya dianggap memiliki asal-usul keturunan yang sama.

Dalam aplikasinya di sekolah-sekolah di Indonesia istilah Ujian Nasional mengacu pada suatu sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Kemdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.


Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.



Ujian Nasional (UN) digelar untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil UN digunakan sebagai:

1. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;
2. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
3. Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan
4. Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Peserta UN merupakan siswa yang telah berada pada tahun terakhir di SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK. Peserta juga memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK mulai semester I tahun pertama hingga semester I tahun terakhir.

Mereka yang memiliki ijazah atau surat keterangan lain yang setara atau berpenghargaan sama dengan ijazah dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah, atau memiliki bukti kenaikan kelas dari kelas III ke kelas IV untuk siswa Kulliyatul-Mu’alimin Al Islamiyah (KMI)/Tarbiyatul-Mu’alimin Al Islamiyah (TMI) yang pindah ke SMA/MA atau SMK.

Standar Kelulusan Ujian Nasional

1. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; dan
2. Pemerintah Kabupaten/Kota dan atau satuan pendidikan dapat menetapkan standar kelulusan UN lebih tinggi dari criteria tersebut sebelum pelaksanaan UN.

Mata Pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional

Untuk UN SMA/MA mata ujian terdiri dari :

Program IPA

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Kimia,
Biologi, dan
Fisika

Program IPS

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Sosiologi,
Geografi, dan
Ekonomi

Program Bahasa

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Bahasa Asing lain yang diambil,
Sejarah Budaya/Antropologi, dan
Sastra Indonesia

Program Keagamaan

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Ilmu Tafsir,
Ilmu Hadis, dan
Ilmu Kalam.

Untuk UN SMK mata ujian terdiri dari :


Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Teori Kejuruan, dan
Praktek Kejuruan

Untuk Tingkatan SMP/MTS diujikan seperti :

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

Sedangkan untuk Tingkatan SD/MI diujikan seperti :

Matematika,
Bahasa Indonesia,
IPA,

Kiat Sukses Ujian Nasional untuk Guru Pembimbing

Setiap tahun pelaksanaan UN memang selalu menjadi pembicaraan hangat bahkan kontroversi karena masih terdapat tindak kecurangan atau penyelewengan dalam pelaksaanaan UN, misalnya jual-beli soal atau jawaban yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Polemik makin berkepanjangan ketika banyak siswa yang tidak lulus UN, apalagi siswa-siswa yang tidak lulus tersebut adalah siswa-siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Nilai UN yang dijadikan sebagai kunci apakah siswa lulus atau tidak setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun memang menjadi hal yang dilematis bagi sekolah dan dinas yang terkait. Di satu sisi, ini merupakan sebuah program dalam meningkatkan kualitas kompetensi lulusan. Namun, di sisi lain, bila input siswa yang dimiliki kemampuannya minim, ditambah fasilitas yang kurang memadai dan kondisi-kondisi lainnya yang kurang menunjang untuk peningkatan kualitas siswanya, maka kekhawatiran akan hasil UN yang mengakibatkan banyaknya siswa tidak lulus adalah sangat beralasan.

Banyaknya siswa yang tidak lulus akan memengaruhi kredibilitas sekolah di mata masyarakat yang akan berdampak pada menurunnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Alhasil sekolah pun harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil UN. Di antara sekian strategi yang bisa dilakukan adalah, pertama, meningkatkan motivasi siswa. Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seeorang. Bila seseorang memiliki motivasi tinggi maka seberat apa pun tantangan yang ada di hadapannya akan mampu ia atasi. Karena itu, menumbuhkan motivasi yang tinggi di siswa adalah langkah awal yang harus dilakukan.

Tentu saja tidak mudah untuk menumbuhkan motivasi atau gairah belajar yang tinggi di siswa ini. Diperlukan pendekatan khusus, mungkin bisa dimulai dengan pengklasifikasian siswa dari siswa yang memiliki high motivation sampai yang low motivation, lalu dibuat progress report-nya.

Lakukan proses penanganan per siswa, terutama yang memiliki motivasi belajar kurang sampai kemudian motivasi belajarnya itu muncul. Pendekatan psikologis secara personal di luar jam pelajaran dengan suasana yang rileks dan nyaman perlu dilakukan sehingga ada kedekatan dan keterbukaan antara siswa dan guru.

Strategi kedua, mengubah sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran dalam menghadapi UN tentu saja harus berbeda dengan sistem pembelajaran sehari-hari. Selain pemberian materi juga diadakan pembahasan soal-soal, bahkan setiap akhir minggu atau akhir bulan sebaiknya dilakukan try out untuk mengukur sampai di mana kompetensi yang telah dikuasai siswa.

Pembelajaran akan lebih mudah kalau menggunakan sistem kerja tim untuk guru dan sistem kelompok belajar untuk siswa. Kelompok siswa ditentukan oleh nilai hasil try out. Siswa yang mendapat nilai di atas standar disatu-kelompokkan dan yang kurang dibuat kelompok yang lain. Dampak negatifnya siswa yang dalam kelompok kurang akan merasa tersisih, tapi ini bisa disiasati dengan memberikan dukungan dan motivasi bahwa mereka mampu dan mereka pun dituntut untuk masuk ke kelompok yang mendapat nilai bagus. Pembuatan kelompok ini dilakukan untuk mempermudah pembahasan terhadap materi pelajaran yang tidak di kuasai siswa.

Ketiga, meminta dukungan dari orang tua siswa. Sekolah harus terus berkoordinasi dengan orang tua mengenai program-program dalam mempersiapkan UN. Diharapkan partisipasi orang tua secara aktif dalam membantu anak-anaknya terutama dalam pemberian motivasi dan pengawasan belajar di rumah.

Keempat, berdoa. Doa merupakan perwujudan permohonan seseorang kepada Allah agar diberi kemudahan. Efek dari doa juga melahirkan ketenangan dan ketawakalan. Ini penting karena dalam persiapan dan pelaksaan UN kondisi ketenangan berpengaruh dalam proses pengisian soal. Karena itu, dorong siswa agar lebih memperbanyak doa.

Mudah-mudahan dengan langkah-langkah di atas pelaksanaan UN memberikan pelajaran yang berharga bagi siswa, tidak hanya mendapat nilai yang sesuai dengan standar kelulusan, tapi juga merasakan bagaimana sikap harus bekerja keras untuk memperoleh sesuatu dan juga meningkatkan sikap takwa.

Terlepas dari itu, menurut penulis sebaiknya kelulusan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai UN yang hanya diwakili oleh beberapa mata pelajaran. Alangkah lebih baiknya kalau kelulusan ditentukan melalui beberapa indikator, di antaranya hasil nilai UN, nilai rata-rata akhir semua mata pelajaran, prestasi ekstrakurikuler, dan sikap siswa baik secara mental maupun perilaku. Semoga pendidikan kita bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

UN bukan Ukuran Keberhasilan Pendidika
n

Ujian Nasional (UN) cenderung dipahami secara salah oleh para orang tua, kepala sekolah, dan pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Hal ini termanifestasikan dari banyaknya orang yang berlomba-lomba mengondisikan anaknya atau siswa sekolah agar meraih nilai bagus dalam UN. Padahal sesungguhnya nilai bagus dalam UN bukanlah jaminan yang layak dijadikan ukuran bagi keberhasilan pendidikan. Selama ini terjadi “salah persepsi” secara nasional terhadap kegiatan UN. Akibat salah persepsi itu, maka target UN pun menjadi beban para siswa, guru, dan kepala sekolah. Tingkat kelulusan dan nilai bagus UN seolah-olah cerminan kinerja pimpinan sekolah yang baik. Padahal bagus atau tidaknya kepimpinan sekolah tidak hanya itu.

Fenomena UN adalah gambaran kepanikan para kepala sekolah dan guru serta pihak terkait lainnya. Ini tercermin dari adanya berbagai upaya agar siswanya meraih nilai bagus dalam UN. Jika nilainya bagus, maka diharapkan ada penilaian bagus pula dari atasannya. Seandainya penyelenggaraan pendidikan khususnya pola UN masih seperti ini, kita pesimistis terhadap kemajuan program pendidikan nasional.
Read More...